Logo Infraloka
Thought Leadership

Bahasa Persatuan Juga Membutuhkan Pembaca

Pemuda Indonesia membaca, menulis, dan berdiskusi bersama

Menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan juga mengajak kita membuat pemahaman antarsesama menjadi mungkin.

RAHMAT WIBOWO | 28 OKTOBER 2026

Ikrar ketiga Sumpah Pemuda menyatakan bahwa putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Ikrar itu tidak menyatakan bahasa daerah harus hilang. Bahasa bersama memberi kita jembatan; bahasa yang kita gunakan sejak kecil juga membawa ingatan, pengetahuan, dan hubungan yang berharga.

Saya membaca ikrar itu sebagai pengingat bahwa jembatan membutuhkan lebih dari kata-kata yang sama. Ia membutuhkan orang yang mampu membaca klaim dengan saksama, menyampaikan pikiran dengan jelas, dan mendengarkan ketika orang lain memahami sesuatu secara berbeda. Ini tafsir pribadi saya, bukan makna resmi ikrar tersebut.

Membaca lebih dari mengenali kata

Bayangkan sebuah artikel membuat klaim yang sangat yakin tentang anak muda. Membacanya dengan baik berarti menemukan argumennya, memeriksa bukti yang diberikan, dan memperhatikan apa yang belum dibuktikan. Apakah buktinya tentang Indonesia? Apakah ia menunjukkan sebab atau hanya hubungan? Apakah sumbernya bisa diperiksa?

Pertanyaan ini berguna di sekolah, tempat kerja, dan percakapan keluarga. Ia membantu kita membedakan kalimat yang meyakinkan dari kesimpulan yang didukung bukti.

Latihan tiga langkah

Laporan yang menjadi dasar seri ini mengusulkan rutinitas sederhana:

  1. Baca satu bagian dengan perhatian. Pilih panjang dan waktu yang sesuai dengan keadaan Anda.
  2. Tulis ulang gagasan utamanya dengan kata-kata sendiri, termasuk hal yang masih belum pasti.
  3. Jelaskan kepada orang lain dan dengarkan pertanyaannya.

Ini saran praktis, bukan program teruji yang menjamin hasil. Jika penjelasannya terasa sulit, kembalilah ke teks bersama-sama. Sebuah pertanyaan bisa menunjukkan celah dalam sumber sekaligus celah dalam pemahaman kita.

Sediakan ruang untuk belajar

Kebiasaan membaca tidak tumbuh sendirian. Orang membutuhkan waktu, bahan yang dapat diakses, pengajaran, dan rasa aman untuk bertanya tanpa ditertawakan. Keluarga, sekolah, perpustakaan, penerbit, dan lembaga publik dapat membantu menyediakan keadaan tersebut.

Menjunjung bahasa persatuan bukan tuntutan agar semua orang terdengar sama. Ia dapat dibaca sebagai ajakan membangun pemahaman yang cukup untuk bekerja sama sambil menghormati perbedaan yang kita bawa ke dalam percakapan.

Sumber: Teks asli Sumpah Pemuda, ANTARA; Menepati Janji di Zaman AI: Pesan untuk Pemuda, bagian 6.

Artikel terkait