Benarkah Kecerdasan Pemuda Indonesia Menurun? Buktinya Belum Menunjukkan Itu

Sejumlah penelitian menemukan penurunan skor tes di luar negeri. Temuan itu belum membuktikan IQ Gen Z Indonesia menurun.
RAHMAT WIBOWO | 28 OKTOBER 2026
Sebuah angka yang beredar di internet bisa cepat berubah menjadi vonis: anak muda disebut kurang cerdas dibanding generasi sebelumnya. Sebelum mengulanginya, kita perlu bertanya siapa yang diuji, kapan, dan apa yang sebenarnya diukur.
Laporan yang menjadi dasar seri ini membahas penelitian dari Norwegia dan Amerika Serikat. Keduanya meneliti populasi tertentu, bukan sampel yang mewakili Gen Z Indonesia. Temuannya tidak dapat menetapkan tren bagi pemuda Indonesia.
Apa yang dapat dan belum dapat dijelaskan penelitian
Bratsberg dan Rogeberg meneliti laki-laki peserta wajib militer di Norwegia dan menemukan perubahan skor tes kognitif antarkelompok kelahiran. Kelompok yang dibahas dalam laporan sumber lahir paling lambat 1991, sebelum tahun kelahiran yang biasanya dikaitkan dengan Gen Z. Para peneliti menemukan bukti yang konsisten dengan pengaruh lingkungan; hal itu tidak menunjuk satu penyebab tertentu.
Penelitian lain di Amerika Serikat mengamati sampel orang dewasa yang mengikuti tes daring. Perubahan siapa yang ikut atau bagaimana tes dikerjakan dapat menyulitkan penafsiran. Hasil kedua penelitian tidak boleh dikemas ulang sebagai skor IQ satu generasi di Indonesia.
Penilaian belajar menjawab pertanyaan berbeda
Penilaian membaca dan matematika di sekolah dapat membantu menunjukkan di mana siswa membutuhkan dukungan. Penilaian itu bukan tes IQ, dan skornya bukan vonis atas nilai atau potensi seseorang. Rata-rata nasional juga tidak menggambarkan setiap kelas atau setiap anak.
Penelitian pendidikan memberi alasan untuk menaruh perhatian pada kesempatan belajar. Meta-analisis Ritchie dan Tucker-Drob menemukan bahwa tambahan pendidikan berkaitan dengan peningkatan skor tes kecerdasan. Temuan itu berbicara tentang pendidikan, bukan bukti bahwa aplikasi atau kebiasaan layar tertentu menaikkan atau menurunkan IQ.
Percakapan yang lebih berguna
Daripada bertanya apakah satu generasi “bodoh”, tanyakan apakah siswa memperoleh pengajaran yang baik, waktu membaca, bahan belajar, umpan balik, dan dukungan ketika kesulitan. Pertanyaan itu mengarahkan perhatian pada keadaan yang bisa diperbaiki bersama oleh keluarga, sekolah, komunitas, dan pembuat kebijakan.
Seorang pemuda lebih dari sebuah skor. Menggunakan bukti dengan hati-hati dimulai dengan menolak mengubah temuan tentang satu kelompok menjadi cap bagi kelompok lain.
Sumber: Bratsberg dan Rogeberg, Norwegia; Ritchie dan Tucker-Drob, pendidikan dan kecerdasan. Studi Amerika Serikat dan keterbatasannya dibahas dalam laporan sumber, bagian 3.